Selasa, 31 Mei 2016

Mengajak dan Mendidik Anak agar Cinta Lingkungan

Ada perilaku menarik yang dilakukan para suporter sepakbola Jepang di Brasil sesudah menyaksikan laga sepak bola piala dunia beberapa waktu yang lalu. Sesudah pertandingan selesai, bahkan sesudah tim kesayangannya kalah, para suporter ini mengumpulkan sampah yang berserakan di stadion. Hal ini konon dilakukan juga pada momen-momen piala dunia periode sebelumnya. Artinya perilaku ini telah menjadi suatu kebiasaan cinta lingkungan yang tertanam kuat di dalam diri mereka.
Bagaimanakah jika kita bandingkan dengan yang terjadi di negeri ini? Perilaku membuang sampah dan perilaku lain yang jauh dari rasa cinta lingkungan ternyata banyak dijumpai di berbagai daerah. Masalah sampah menjadi masalah yang tampaknya sudah kronis bahkan menjadi ancaman serius di beberapa kota besar.
Sulitkah membuang sampah pada tempatnya? Meski tampaknya mudah dilakukan namun pada kenyataannya jika kita melihat di jalan-jalan di kanan dan kiri kita, banyak sampah yang dibuang sembarang. Banyak warga yang bahkan tampak tidak sabar dan memasang peringatan dilarang membuang sampah dengan mencantumkan denda dalam jumlah yang fantastis.
Dan jika kita mengabaikan perawatan lingkungan di sekitar kita dengan berbagai perilaku negatif seperti membuang sampah sembarangan, menggunduli dan membakar hutan, dan lain sebagainya, mungkin akan tiba waktunya alam menjadi marah dan mengingatkan kita lewat berbagai bencana yang mungkin timbul. Kabut asap yang menyesakkan, banjir, bahkan pemanasan global sudah bukan hal yang jarang kita dengar.

Doktor Peduli Lingkungan Ini Rela Bersepeda dari Kutub ke Yogya

Daniel Price (27) doktor dibidang Oceanologi kebangsaan Inggris bersepeda keliling dunia mengkampanyekan isu perubahan iklim. Daniel tiba di Kota Jogjakarta untuk kampanye tentang perubahan sosial.

Dia berkampanye dari Pole Antartika (kutub selatan) dengan bersepeda pada 21 April 2015 lalu menuju Prancis. Selama perjalanannya ke berbagai negara itu, ia membuat video dokumenter dan mengunggahnya ke media sosial.

Khusus di Kota Gudeg ini ia membuat video pendek  tentang nelayan di pantai Pandansimo Bantul yang membuat kincir angin untuk memenuhi kebutuhan listrik dan menjalankan usahanya. Baginya langkah ini bisa menginspirasi banyak orang karena memanfaatkan energi angin sebagai sumber energi terbarukan yang ramah dan tidak menghasilkan gas emisi.

"Perjalanan ini untuk mengampanyekan perubahan iklim, menyadarkan orang-orang di dunia tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap bumi. Ini semacam misi menyelamatkan bumi, tapi ini tidak mudah untuk meyakinkan orang, karena isu perubahan iklim ini cenderung membosankan bagi orang umumnya," kata dia di Yogyakarta, Senin (25/5/2015).

Daniel mengaku kaget saat berada di Indonesia. Saat itu dirinya singgah di Bali dan kesulitan mengendarai sepedanya di jalan raya karena banyaknya motor dan mobil yang melaju kencang.

"Saya kaget, banyak motor dan mobil, jadi sedikit sulit, tapi masih relatif aman," kata dia.

Kekagetannya bertambah saat tiba di Yogyakarta. Sebab motor dan mobil memenuhi jalan raya membuatnya harus ekstra hati-hati saat melaju di jalan raya. Namun kondisi itu sedikit terobati karena banyak warga Jogja yang murah senyum.

"Saya senang di sini, orangnya ramah, tapi tidak di jalan raya. Lalu lintas begitu ramai dengan motor dan mobil. Saya shock," ungkap dia.

Daniel menjelaskan kampanye yang namainya Pole To Paris ini tidak sendiri. Ia ditemani seorang teman yang melakukan perjalanan dari kutub ke Paris dengan berlari. "Ada dua orang, saya dan teman saya. Kami akan bertemu di Paris sebelum 21 Desember," ujar Daniel.

Daniel menjelaskan perjalanan untuk kampanye ini akan berakhir di Prancis sebelum tanggal 21 Desember 2015. Sebab saat itu akan digelar konferensi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of Parties-21 (COP-21) di Paris.

"Kenapa dari kutub, karena di sana kita bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan iklim tersebut terjadi. Dan di Paris nanti akan ada pertemuan yang membahas perubahan iklim internasional, karena itu kampanye ini disebut Pole to Paris," terang dia.

Daniel menjelaskan Video dan cerita perjalanannya dapat diakses di facebook dan Twitter Pole To Paris. Dengan cerita dan video tersebut, masyarakat dunia dapat sadar dan bagaimana harus berbuat untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. (Ali)

Beli Indonesia, Jangan Beli Kapitalis

CSRINDONESIA – Penggagas Gerakan Beli Indonesia dan IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) yang juga pengusaha Nasional Muslim Heppy Trenggono, menulis artikel yang sangat cerdas dan jeli. Berikut kami angkat dan tanpa kami sunting. Selamat menyimak:
Ketika demo besar besaran sopir Taxi di Jakarta. Sopir saya ngobrol dengan temannya yang melihat iring iringan mobil RI 1 masuk ke jalan jalan kecil di sekitar Jl Sriwijaya Jakarta Selatan. Dia bertanya tanya, kenapa Presiden harus melipir ke jalan jalan kecil?
Demo di Jakarta telah memunculkan perdebatan panjang antara yang pro, kontra dan yang bingung, tidak ketemu benang merah yang jelas dalam persoalan taxi online ini.
Semua pembicaraan mengarah kepada teknologi, tak kurang seorang Profesor yang juga bintang iklan jamu dari Universitas ternama ibu kota bergegas turun tangan menjelaskan dengan berbagai teori ekonominya, intinya agar masyarakat jangan protes dan sambutlah perubahan. Kata Profesor, ini adalah sharing ekonomi yang akan menjungkalkan kapitalisme. Wow!!!
Sebelum ribut para sopir taxi demo masyarakat dibuat kagum dengan prestasi Gojek, Ojek yang juga berbasis aplikasi online.  Tak kurang Pemerintah mengapresiasi dengan setinggi langit, pengusahanya dibawa keliling dunia utk dipamerkan sebagai prestasi bangsa.
Di ujung sana, kelahiran Gojek membawa petaka bagi para pengojek. Gojek dengan kekuatan kapitalnya mensubsidi tarif ojek dengan biaya jauh dekat hanya Rp 10.000 selama berbulan bulan. Hasilnya bisa kita tebak, tidak ada yang mau pakai ojek biasa, kenapa harus bayar 50.000 kalau bisa bayar 10.000?
Gojek mensubsidi tarif karena tidak mengharapkan uang dari tarif, tapi dari capital market, dengan cara menaikkan nilai bisnisnya. Gojek lebih peduli dengan jumlah transaksi daripada jumlah nilai per transaksi. Karena jumlah transaksinya yg akan dihargai investor.
Mudah diterka, akhir cerita Gojek akan jual sahamnya dengan harga selangit. Bahwa setelah itu tarifnya dia kembalikan normal, itu suka suka dia, kalau perlu tarif lebih tinggi. Sementara ojek biasa, angkutan umum, bahkan taxi sudah berguguran karena langkah Gojek.
Ada hal yang sama antara kasus Gojek dan Taxi Uber, bahwa dibalik mereka adalah investor asing yang tidak peduli dengan perekonomian rakyat!
Bisa dibayangkan urusan tarif ojek dan taxi bisa ditentukan asing?
Jadi dimana kebenaran teori bahwa ini adalah sharing ekonomi yang akan menggusur kapitalisme? Dibelakangnya justru kapitalisme!
Bung Karno pada tahun 1930 sudah mengingatkan tentang bahaya kapitalisme. Pada saat itu belum banyak orang pintar di negeri ini.
Perekonomian rakyat akan mati jika kapitalisme tidak dikendalikan.
Kapital kita perlukan untuk membangun, tapi kapitalisme harus kita lawan.
Hari ini kapitalisme setiap hari menggusur perekonomian rakyat.
Kita lihat peternak peternak ayam di Cianjur dan Sukabumi gulung tikar karena di kampungnya sudah hadir peternak baru dengan modal hingga trilyun rupiah dari Thailand, China, Malaysia bahkan Korea.
Petani di Subang harus bersiap jadi kuli karena investor dari China menanam padi dengan investasi juga trilyun rupiah.
Pedagang warung kecil sudah lama tutup karena digusur minimarket. Sekarang tukang ojek dan tukang taxipun bergelimpangan.
Bukankah aneh negeri ini, di tengah naiknya berbagai harga kebutuhan pokok di konsumen, harga jual di petani justru hancur. Siapa yang bertanggung jawab dibalik semua persoalan itu?
Benarkah semua itu harus kita terima apa adanya sebagai sebuah perubahan?
Dimana peran pemerintah?
Sang Profesor rupanya sudah keblinger. Merasionalkan dengan segudang teori tapi mengaburkan persoalan yang fundamental bagi rakyat.
Tidak ada yang baru dalam ekonomi, tidak ada yang baru dalam kapitalisme, dari dulu hingga sekarang kapitalisme hidup dengan cara menghisap darah rakyat!
Masalahnya terbesarnya, Presiden seperti biasa akan menunggu nunggu dulu, kemana kira kira angin bertiup sebelum ambil keputusan lambatnya.
Bukan tidak mungkin, kalau Presiden selalu memutuskan hanya dengan pertimbangan popularitas, tidak benar benar peduli nasib rakyat, maka tidak hanya akan dipaksa melipir lewat jalan jalan kecil, tapi akan dipaksa keluar dari istana.
Gerakan Beli Indonesia. #BeliIndonesia
Heppy Trenggono, Penggagas Gerakan Beli Indonesia dan IIBF (Indonesia Islamic Business Forum)