CSRINDONESIA – Penggagas Gerakan Beli Indonesia dan IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) yang juga pengusaha Nasional Muslim Heppy Trenggono, menulis artikel yang sangat cerdas dan jeli. Berikut kami angkat dan tanpa kami sunting. Selamat menyimak:
Ketika demo besar besaran sopir Taxi di Jakarta. Sopir saya ngobrol
dengan temannya yang melihat iring iringan mobil RI 1 masuk ke jalan
jalan kecil di sekitar Jl Sriwijaya Jakarta Selatan. Dia bertanya tanya,
kenapa Presiden harus melipir ke jalan jalan kecil?
Demo di Jakarta telah memunculkan perdebatan panjang antara yang pro,
kontra dan yang bingung, tidak ketemu benang merah yang jelas dalam
persoalan taxi online ini.
Semua pembicaraan mengarah kepada teknologi, tak kurang seorang
Profesor yang juga bintang iklan jamu dari Universitas ternama ibu kota
bergegas turun tangan menjelaskan dengan berbagai teori ekonominya,
intinya agar masyarakat jangan protes dan sambutlah perubahan. Kata
Profesor, ini adalah sharing ekonomi yang akan menjungkalkan
kapitalisme. Wow!!!
Sebelum ribut para sopir taxi demo masyarakat dibuat kagum dengan
prestasi Gojek, Ojek yang juga berbasis aplikasi online. Tak kurang
Pemerintah mengapresiasi dengan setinggi langit, pengusahanya dibawa
keliling dunia utk dipamerkan sebagai prestasi bangsa.
Di ujung sana, kelahiran Gojek membawa petaka bagi para pengojek.
Gojek dengan kekuatan kapitalnya mensubsidi tarif ojek dengan biaya jauh
dekat hanya Rp 10.000 selama berbulan bulan. Hasilnya bisa kita tebak,
tidak ada yang mau pakai ojek biasa, kenapa harus bayar 50.000 kalau
bisa bayar 10.000?
Gojek mensubsidi tarif karena tidak mengharapkan uang dari tarif,
tapi dari capital market, dengan cara menaikkan nilai bisnisnya. Gojek
lebih peduli dengan jumlah transaksi daripada jumlah nilai per
transaksi. Karena jumlah transaksinya yg akan dihargai investor.
Mudah diterka, akhir cerita Gojek akan jual sahamnya dengan harga
selangit. Bahwa setelah itu tarifnya dia kembalikan normal, itu suka
suka dia, kalau perlu tarif lebih tinggi. Sementara ojek biasa, angkutan
umum, bahkan taxi sudah berguguran karena langkah Gojek.
Ada hal yang sama antara kasus Gojek dan Taxi Uber, bahwa dibalik
mereka adalah investor asing yang tidak peduli dengan perekonomian
rakyat!
Bisa dibayangkan urusan tarif ojek dan taxi bisa ditentukan asing?
Jadi dimana kebenaran teori bahwa ini adalah sharing ekonomi yang akan menggusur kapitalisme? Dibelakangnya justru kapitalisme!
Bung Karno pada tahun 1930 sudah mengingatkan tentang bahaya kapitalisme. Pada saat itu belum banyak orang pintar di negeri ini.
Perekonomian rakyat akan mati jika kapitalisme tidak dikendalikan.
Kapital kita perlukan untuk membangun, tapi kapitalisme harus kita lawan.
Hari ini kapitalisme setiap hari menggusur perekonomian rakyat.
Kita lihat peternak peternak ayam di Cianjur dan Sukabumi gulung tikar
karena di kampungnya sudah hadir peternak baru dengan modal hingga
trilyun rupiah dari Thailand, China, Malaysia bahkan Korea.
Petani di Subang harus bersiap jadi kuli karena investor dari China menanam padi dengan investasi juga trilyun rupiah.
Pedagang warung kecil sudah lama tutup karena digusur minimarket. Sekarang tukang ojek dan tukang taxipun bergelimpangan.
Bukankah aneh negeri ini, di tengah naiknya berbagai harga kebutuhan
pokok di konsumen, harga jual di petani justru hancur. Siapa yang
bertanggung jawab dibalik semua persoalan itu?
Benarkah semua itu harus kita terima apa adanya sebagai sebuah perubahan?
Dimana peran pemerintah?
Sang Profesor rupanya sudah keblinger. Merasionalkan dengan segudang
teori tapi mengaburkan persoalan yang fundamental bagi rakyat.
Tidak ada yang baru dalam ekonomi, tidak ada yang baru dalam
kapitalisme, dari dulu hingga sekarang kapitalisme hidup dengan cara
menghisap darah rakyat!
Masalahnya terbesarnya, Presiden seperti biasa akan menunggu nunggu
dulu, kemana kira kira angin bertiup sebelum ambil keputusan lambatnya.
Bukan tidak mungkin, kalau Presiden selalu memutuskan hanya dengan
pertimbangan popularitas, tidak benar benar peduli nasib rakyat, maka
tidak hanya akan dipaksa melipir lewat jalan jalan kecil, tapi akan
dipaksa keluar dari istana.
Gerakan Beli Indonesia. #BeliIndonesia
Heppy Trenggono, Penggagas Gerakan Beli Indonesia dan IIBF (Indonesia Islamic Business Forum)